Rahasia Awet Muda Perempuan Jepang
Pengobatan Alternatif Tasik. Tokyo, tak hanya suasana kotnya saja yang enak dipandang, tetapi juga para perempuannya. Banyak perempuan Jepang yang tetap tampil menarik, meskipun usia mereka tampaknya mendekati kepala tiga.
Lalu, saat berbincang-bincang, cerita yang bergulir dari mulut mungil mereka antara lain, mengenai susahnya membesarkan anak remaja dan seputar urusan karier yang sudah dijalani selama 20 tahun. Saya tergelitik untuk berhitung, berarti umur mereka mendekati angka 40-an. Wow, rasa penasaran pun menyeruak. Sempat terlintas dalam benak, jangan-jangan ada ramuan khusus sehingga mereka tampak awet muda. Namun, melihat hampir semua perempuan Jepang awet muda, sepertinya ada rahasia lain yang perlu ditelusuri.
Tentunya, kita tidak harus tinggal di Jepang atau menjadi orang Jepang, agar tidak cepat keriput. Kita hanya perlu "mencuri" ilmu diet, gaya hidup, maupun tips perawatan kulit mereka. Dan ternyata, inilah rahasianya....
Berikan kulit makanan seimbang
Dalam bukunya, Japanese Woman Don't Get Old or Fat, Naomi Moriyama menggambarkan negaranya sebagai tempat dimana perempuan berusia 40 terlihat seperti berumur 20-an. "Mereka bebas menikmati makanan lezat dan tingkat penderita obesitas di Jepang hanya tiga persen saja," ujarnya.
Naomi memaparkan kunci diet ala mereka adalah: sepiring kecil minyak ikan, kedelai, nasi, sayur-sayuran, dan buah-buahan. "Makanan yang terbuat dari beras juga dipercaya memberikan sumbangsih untuk kesehatan kulit. Bahkan, sampai ada kata khusus dalam bahasa Jepang yang menggambarkan kulit lembut dan kenyal, yaitu mocha-hada atau kulit seperti mochi, sejenis kue dari tepung beras yang teksturnya kenyal, halus, dan lembut," lanjutnya.
Jessica Wu, MD, seorang dokter kulit di Los Angeles asal Taiwan yang dibesarkan oleh orangtua asli Cina, mempunyai tradisi dan pola makan mirip orang Jepang. Ia percaya kalau kedelai termasuk jenis makanan antipenuaan terbaik.
"Sewaktu kecil, saya minum susu kedelai segar buatan ibu setiap hari, dan kami lebih sering makan tofu, dibandingkan daging dan produk susu lainnya. Saya yakin kedelai bisa menyembuhkan jerawat dan meminimalkan kekeringan kulit," ujar Jessica.
Orang Jepang juga berpendapat green tea membantu memperlambat proses penuaan. Mereka mengonsumsi minuman kaya antioksidan ini sepanjang waktu, pastinya jauh lebih baik daripada kopi, jus buah kemasan, maupun diet coke.
Lihatlah gaya hidup mereka yang begitu sehat. Jumlah perempuan yang merokok di Tokyo hanya sekitar 10 persen. Mereka juga cukup taat membatasi konsumsi makanan berkadar gula tinggi. Ia bercerita, "Sewaktu tinggal di Los Angeles, saya suka irisan jeruk sebagai makanan penutup, bukan kue cokelat. Ternyata, di antara para sepupu, hanya saja yang tidak berjerawat saat remaja."
Berdasarkan penelitian terbaru, konsumsi gula yang berlebihan dapat memicu infeksi jerawat dan merusak lapisan kolagen.
Balurkan tabir surya setiap hari
Kalau Anda pernah menemukan turis-turis Jepang berseliweran, Anda akan melihat perempuan Jepang selalu menggunakan payung, saat cuaca sedang terik.
"Mereka memang sangat fanatik menjaga kulit dari sengatan matahari untuk menghindari flek-flek hitam di wajah," ujar Susan Taylor, MD, seorang dokter kulit asal Philadelphia. Sebagai seorang keturunan Afrika-Amerika, Susan sengaja memberikan perhatian khusus kepada pasien kulit berwarna.
Pada prinsipnya flek hitam bisa dialami oleh semua warna kulit, kecuali mereka yang berhati-hati menjaga kulit. Ternyata, kaum hawa di Jepang telah melakukannya lebih awal, yaitu sejak usia 20-an.
Jika dibandingkan perempuan Kaukasia, kulit mereka memang mengandung lebih banyak melanin, sehingga pigmentasi akan mudah terlihat. Tetapi, jika disandingkan dengan keturunan Melayu atau Latin, melanin mereka lebih sedikit.
Melanin juga berfungsi sebagai pelindung alami dari sinar matahari. Kulit perempuan Jepang lebih mudah terbakar daripada mereka yang berkulit gelap. "Untuk mencegah munculnya noda di wajah, ibu-ibu di sana mulai memakaikan tabir surya kepada bayi mereka sejak lahir," ungkap Yuko Hosnino, seorang spesialis kulit dari Shiseido Tokyo.
Hasilnya, perempuan Jepang bukan hanya terhindar dari flek hitam ketika dewasa, tapi kerutan di muka pun lebih sedikit. Kerutan yang muncul di usia 40-an dan 50-an, sebenarnya lebih disebabkan akibat dampak buruk paparan sinar UV yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.
Jadi, gunakanlah tabir surya setiap hari -bukan hanya saat kita berada di pantai- agar kulit tidak rusak dan selalu sehat.
Kita tidak harus tinggal di Jepang atau menjadi orang Jepang, agar memiliki wajah yang awet muda seperti mereka. Kita hanya perlu "mencuri" ilmu diet, gaya hidup, maupun tips perawatan kulit mereka. Dan ternyata, inilah rahasianya....
Ratakan warna kulit
Ketika kita sudah rutin menggunakan tabir surya, langkah berikutnya adalah meminimalkan flek hitam yang terlanjur menempel di wajah. Yoko Kisara, seorang penulis kecantikan di Tokyo, menyarankan memakai krim yang memperlambat produksi pigmen -biasa disebut pemutih, brightening atau tone corrector. Fungsinya sama: memutihkan dan meratakan warna kulit di bagian tertentu.
Jika perbedaan warna kulit terlihat sangat jelas, Jessica Wu, MD, seorang dokter kulit di Los Angeles asal Taiwan, mengatakan lebih baik Anda pergi ke dokter kulit untuk meminta obat yang mengandung hydroquinone atau tretinoin (Retin-A) dengan kadar tertentu.
Anda juga dapat menjalani terapi pengelupasan kulit, lewat obat-obatan kimia atau terapi Intense Pulse Light (IPL) yang menggunakan sinar khusus untuk memperbaiki warna kulit.
Jaga kelembaban kulit
"Tidak banyak perempuan Jepang usia di atas 40-an yang mengeluh kulit mereka kering," ujar Hideko Hattori, seorang dokter kulit di Tokyo. Ini terjadi antara lain berkat bantuan alam.
Tingkat kelembaban beberapa wilayah di Jepang memang cukup tinggi, sehingga masih ada saja perempuan separuh baya di sana yang mengeluh wajah mereka kelebihan minyak. Anda memang tidak dapat mengubah iklim, tapi Anda bisa meniru beberapa kebiasaan, agar kulit bebas dari kekeringan dan tetap lembab.
Sebagian besar orang Jepang jarang menggunakan AC maupun pemanas ruangan. Bahkan, ketika musim panas banyak perusahaan mengeluarkan kebijaksanaan "cool biz", yaitu mengizinkan para karyawannya berbusana kasual, supaya lebih nyaman saat udara sedang panas. Hasilnya, kulit mereka tetap lembab.
Perempuan Jepang juga sangat disiplin dalam ritual melembabkan kulit. "Banyak di antara mereka rela memakai bermacam-macam jenis produk yang fungsinya hampir sama. Setidaknya dua dari tiga produk tersebut berguna untuk melembabkan kulit. Sementara, kebanyakan wanita Amerika, justru lebih suka mengandalkan satu jenis krim saja dengan harapan berbagai masalah kulit dapat teratasi dengan baik," ujar Yoko.
Contohnya, Ikuko Watanabe, seorang fashion stylist berusia 50, memakai krim pelembab dan toner yang berfungsi melembabkan kulit, serum pelembab, serum mencerahkan kulit, dan tabir surya sekaligus pelembab. Bahkan, ditambah lagi dengan masker pelembab wajah, setidaknya seminggu sekali. Hm... tentu saja kulit mereka jadi lembab dengan cara itu.
Pijat area wajah dan leher
Dalam adat Cina dan Jepang, pijat wajah merupakan bagian ritual perawatan kulit. "Ibu saya menyarankan, selagi muda lakukan pemijatan setiap malam, setelah membersihkan wajah," lanjut Jessica.
Kegiatan ini adalah bagian dari tradisi akupunktur dan acupressure Asia Timur yang bisa melancarkan peredaran darah, sehingga kulit wajah lebih segar dan mudah menyerap berbagai produk perawatan kulit.
Menariknya lagi, lokasi pemijatan wajah sama dengan titik dimana botoks disuntikkan oleh para dokter kulit. Contohnya, di antara kedua alis, garis ekspresi atau senyum, dan di samping kedua mata bagian luar."
Ia juga percaya, kalau kita teratur memijat wajah, hasilnya bisa segera dibuktikan. "Sekitar 15 tahun lalu, ketika saya mulai melakukan praktek botoks dan suntik kolagen, saya menawarkan terapi ini kepada ibu saya yang berusia 55. Namun, ketika ia duduk di ruang praktek dan tangan saya mulai bereaksi, saya baru sadar ternyata ia tak memiliki kerutan sama sekali," tandasnya terpana.Pengobatan Alternatif Tasik
(Genevieve Monsmwa) Sumber : Kompas.com
PENGOBATAN ALTERNATIF TASIK PENGOBATAN ALTERNATIF TASIK PENGOBATAN ALTERNATIF TASIK PENGOBATAN ALTERNATIF TASIK PENGOBATAN ALTERNATIF TASIK PENGOBATAN ALTERNATIF TASIK PENGOBATAN ALTERNATIF TASIK
Tampilkan postingan dengan label pengobatan alternatif tasik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengobatan alternatif tasik. Tampilkan semua postingan
Kamis, 25 November 2010
Kamis, 21 Oktober 2010
Ini Kisahku Melawan Jeratan Kanker Payudara
Ini Kisahku Melawan Jeratan Kanker Payudara
Pengobatan Alternatif Tasik. Kanker payudara (KP) merupakan salah satu pembunuh perempuan terkejam. Ia datang diam-diam, menggerogoti tubuh, menyakiti, kemudian membunuh. Bukan hal yang mudah untuk menghadapi kanker. Inilah cerita Enny Hardjanto, seorang pengusaha, dosen, dan survivor KP yang sempat divonis berada di stadium 4.
Saya terdeteksi KP sekitar tahun 2005, begitu tahu kabar ini, saya tidak mau ke dokter. Itu kesalahan saya. Saya merasa takut. Benar-benar takut. Saya sudah banyak mendengar cerita mengenai proses penyembuhan kanker yang menimbulkan banyak masalah, mulai dari kemoterapi atau biopsi, mereka bilang, nanti kankernya akan makin menyebar. Semua mitos itu memengaruhi saya. Sehingga pada tahun 2005 itu, saya ndak berani ke dokter. Padahal, dari dokter yang memberitahu (dokter umum), semua gejala sudah mengindikasikan apa yang saya idap itu adalah KP.
Masih diselimuti rasa takut untuk menempuh jalur medis, saya pun pergi ke pengobatan-pengobatan alternatif. Semua saya datangi. Mulai dari ujung Sumatera Utara sampai ke Irian, semua saya coba. Di Jakarta lebih banyak lagi saya datangi. Ada yang lewat kambing, dibuanglah, inilah, itulah. Uang yang keluar pun jutaan, bukan satu-dua juta, tetapi puluhan juta, hanya untuk alternatif. Bayangkan saja, biaya untuk tiket penerbangan, penginapan, dan ini-itunya, kan tidak sedikit. Setelah 6-7 bulan berusaha pengobatan alternatif, bukannya berkurang, malah makin menyebar. Kanker payudaranya sudah mulai terasa sakit, karena kankernya ternyata sudah merasuk ke dalam. Bentuk payudara saya pun sudah mulai tak keruan.
Tak lama, teman saya mengajak terapi China. Saya ikutin selama 2 bulan. Dokternya bilang, saya harus pergi ke China. Saya tidak berani, karena saya tidak bisa bahasa China, kalau ada apa-apa saya tidak mengerti, lalu saya berhenti. Teman saya sudah dikemoterapi oleh dokter itu, sudah kelar. Lalu teman saya itu bilang, "Udah, kita ke medis saja, ya." Saya pun menyerah, saya pergi ke ahli medis di Jakarta. Dokter itu bilang, "Waduh, kamu ini sudah stadium lanjut. Enggak ada yang berani operasi. Harus dikemoterapi dulu." Saya pun hitung-hitung. Ternyata biayanya mahal luar biasa. Karena kemoterapi yang harus saya jalani tipe yang sangat kuat.
Saya menyerah, saya saat itu sudah pensiun, tetapi kadang masih mengajar. Lalu, teman-teman saya yang juga terjerat KP pun berkumpul. Kita pun sharing banyak sekali.
Tiba-tiba ada yang mengajak pengobatan ke Malaka. Menurutnya, lebih murah dibanding biaya perawatan di Jakarta. Saya pikir, kan keluar negeri, pastilah lebih mahal karena penerbangan, penginapan, dan lainnya. Eh, ternyata enggak, karena ada penerbangan promo ke Malaysia yang murah. Saya bersama suami, pergi ke sana bersama dua teman.
Di sana, kami ketemu dengan salah seorang dokter yang sama. Dokter di sana bilang kepada salah satu teman saya yang sudah dikemoterapi di Indonesia, "Mengapa kamu dikemoterapi? Kamu tidak menderita kanker. Kamu cuma punya tumor." Padahal bentuknya besar sekali, sebesar bola voli. Menurut dokternya, kalau dioperasi saja, sudah bisa kelar. Teman saya yang satu lagi, diperiksa, ternyata baru stadium 2, tinggal dioperasi dan kemoterapi, selesai. Lalu, begitu sampai di saya, dokternya hanya bisa diam.
Pasti Ada Jalan
Tiba-tiba, si dokter bilang, "Ini yang membuat saya semangat. Kita satu tim. Kamu, saya, dan Tuhan. Saya tidak bisa menyembuhkan kamu. Saya bisa berusaha, tetapi kamu pun harus berusaha untuk mau sembuh. Kalau enggak, tak bisa. Kamu bisa?" Yang menjawab malah suami saya, "Ya, kita harus bisa! Harus, harus, harus." Lalu saya tanya berapa biayanya, suami saya bilang lagi, "Nanti kita cari. Pasti ada jalan."
Soalnya ini satu-satunya dokter yang bisa bilang, bahwa kita ini satu tim dan dia mau berusaha. Teman-teman saya pun dioperasi dan kemoterapi. Begitu giliran saya, dokter bilang, "Kamu nanti jangan kaget, ya. Kamu akan dikemoterapi besok sekitar jam 9 pagi. Kemoterapinya enggak sakit, masuk dari sini, nanti keluar di sini. Tidur saja, tenang-tenang. Tetapi, nanti akibat kemoterapinya akan terasa tidak nyaman.
Sore, sekitar jam 4, setelah dikemoterapi, saat akan buang air kecil, akan ada warna kemerahan. Itu artinya kemoterapi sedang bekerja. Di situ, kamu tidak bisa kontrol badan kamu. Kadang terasa panas, kadang menggigil. Kamu tidak bisa menguasai diri. Sudah, kamu terima saja, biarkan saja. Semangati terus karena ini proses. Ini proses yang cukup lama. Ini hari pertama. Hari kedua akan terasa badan tidak enak. Lalu di hari ketiga, kamu akan merasa mual dan muntah. Mungkin juga buang air besar. Ini adalah gejala-gejalanya. Nanti, setelah 2-3 minggu, kuku kamu akan menghitam. Kamu bisa, kan?" Suami saya yang jawab, "Bisa, Dok!"
Saya minta sama dokternya supaya saya menjalani ini semua di rumah saja. Dokter bilang, setelah kemoterapi, saya harus langsung pulang. Sekitar jam 9 pagi saya dikemoterapi, lalu jam 11 saya sudah dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Sekitar jam 4 sore, badan saya mulai tidak enak. Saat buang air kecil, benar saja, airnya merah sekali. Lalu tak lama kemudian, temperatur tubuh saya berubah tidak keruan. Di malam hari, saya tidak bisa tidur. Itu hal yang saya paling tidak tahan dari seluruh proses ini. Saya sebenarnya orang yang mudah sekali tidur. Kadang, saya bisa tidur sambil berdiri, kok. Ini, saya tidak bisa tidur sama sekali. Ini bikin saya frustasi. Saya gelisah terus-terusan karena badan tidak enak. Saya sampai minta tolong sama Tuhan untuk membiarkan saya tidur barang 5 menit saja. Akhirnya bisa, tapi cuma sebentar, bangun lagi.
Dua hari kemudian, ibu saya datang. Ia datang dan memeluk saya, tapi saya tidak kuat terima pelukannya. Badan saya sakit bukan main. Ibu saya menangis melihat saya. Karena melihat begitu, saya marah kepada adik saya, "Sudah, kamu bawa ibu pulang, saya tidak bisa melihat ibu sedih. Kalau saya lihat orang lain sedih, saya lebih sedih." Akhirnya ibu dan teman-teman saya cuma lewat telepon dan sms.
Saya Berubah
Aslinya, saya orang yang penggembira. Melihat saya sedih, jadi terasa bukan saya. Hari ke-17, saya merasa aneh. Begitu saya bangun, saya melihat ke bantal saya. Lalu saya melihat sebagian dari rambut yang tadinya ada di kepala saya sudah tergeletak di bantal. Saya berkaca, saya ingin menangis. Botak sana, botak sini. Lalu saya telepon dokter yang di Malaka. Saya tanya, "Dok, mengapa begini cepat?" Lalu ia cuma menjawab, "Aduh, saya lupa bilang sama kamu, dampak pada orang-orang itu berbeda. Saya kira tidak akan terjadi di bulan pertama. Ternyata di kamu lebih cepat." Saya tanya lagi, "Ini akan tumbuh lagi, enggak?" Ia menjawab, "Saya enggak bisa jawab. Mintalah kepada Tuhan." Langsung saya telepon penata rambut saya untuk ke rumah.
Begitu dia lihat saya, dia menangis, "Haduh, ini kenapa begini?" Saya minta cukur sampai habis, dan ia mencukur sambil menangis. Saya cuma bilang, "Nanti, kalau tumbuh lagi, saya minta datang ke rumah, ya." Tetapi saya enggak minta ia datang lagi berbulan-bulan.
Yang lebih menyedihkan lagi, biasanya saya kuat pergi sendiri ke kamar mandi. Padahal kamar mandi saya dekat, jadi kalau saya mau muntah, gampang, tinggal jalan. Minggu kedua kemoterapi, saya sudah tidak kuat jalan ke kamar mandi. Akhirnya saya tinggal di kamar mandi. Di sana, aktivitas saya antara buang air besar atau muntah. Padahal sudah dikasih obat anti muntah, tak ada pengaruhnya. Kembali lagi dokternya bilang, efek pengobatan berbeda tiap orang.
Akhirnya saya cuma bisa berdzikir, berdzikir, dan pasrah. Untungnya, pembantu saya baik dan pengertian. Setiap kali saya muntah, ia bikinkan jus. Jusnya bermacam-macam. Ada apel, pir, anggur, dan dicampur Pocari Sweat. Apa saja masuk, asal saya mau. Karena saya tidak bisa makan. Mencium bau makanan saja saya sudah tidak kuat. Hanya mencium makanan saja saya sudah muntah, padahal belum melihat makanannya. Terus-terusan saya diberi jus begitu kelar muntah oleh pembantu saya. Saya sangat berterima kasih sekali sama dia.
Kemoterapi pertama lewat, saya harus kembali lagi. Setelah dicek lagi, ternyata metastase di paru-paru saya sudah berhenti. Dokter saya berusaha mempertahankan dan dia berpendapat harus dikemoterapi lagi. Saya tanya, "Dok, semua sama lagi? Berulang lagi?" Dengan semangat, ia menjawab, "Ya, sama. Semuanya kembali seperti yang pertama." Kemoterapi saya yang kedua pun terjadi, semua sakit tadi berulang lagi. Kulit saya sudah berkeriput semua, jadi berwarna abu-abu. Tangan saya menghitam. Ya, saya nikmati. Periksa lagi, mengecil lagi kankernya. Lalu kemoterapi ketiga, masih saya coba nikmati.
Dokter Berani Operasi
Begitu menjelang kemoterapi keempat, dokternya baru mau mulai berani beroperasi. Biasanya, kalau operasi seperti ini cuma berlangsung 1,5 jam. Tetapi operasi saya ini berjalan sampai 4,5 jam. Ternyata menurut dokternya, kanker itu sudah ada yang mulai menggerogoti tulang, jadi harus dikerik. Karena itu pun, sakitnya luar biasa, jangan ditanya, bahkan akhirnya saya diberi morfin selama seminggu. Tetapi dokter di sana itu, empati sama orang, tetapi tidak boleh manja. Jadi, besoknya setelah operasi, saya harus memaksa diri untuk mengangkat tangan saya. Padahal, kelenjar getah bening di bagian atas lengan kiri saya baru saja diangkat. Itu semua diambil, dan saya dipaksa mengangkat tangan saya, paksa terus, paksa lagi. Tetap dengan suntikan morfin selama seminggu, lalu seminggu kemudian saya tetap disuntik morfin untuk mengurangi morfin yang pertama. Dua minggu saya di sana, saya mulai tidak betah di rumah sakit, saya minta pulang. Dokter pun mengizinkan saya pulang.
Hampir Menyerah
Baru seminggu saya di rumah, dia telepon lagi, dia minta saya kembali. Saya diminta untuk kemoterapi lagi. Padahal saya masih lemas, saya belum pulih. Dia paksa saya untuk kembali kemoterapi, karena kalau berhenti sebentar, akan tumbuh lagi. Ya, sudah, saya kembali. Kondisi saya sangat parah. Saya sudah tidak bisa bangun, kan baru operasi, lalu kemoterapi lagi. Saya sempat bilang sama Tuhan untuk mengambil saja nyawa saya. Saya merasa tidak berguna. Tetapi hal itu tidak lama. Saya tersadar, saya minta maaf, karena saya ingat, saya sudah dipandu, sudah dibantu, dioperasi berhasil, dikemoterapi berhasil. Lalu apa hak saya meminta ia mengambil nyawa saya? Di sana saya merasa ditemani, merasa dipeluk, lalu saya kembali semangat. Saya jalani saja lagi, meski berat.
Kemoterapi kelima, pun lewat. Saya pun merasa lebih bersemangat. Saya tanya sama teman-teman saya, apa masih mungkin saya mengajar lagi, sejam saja. Saya ingin tahu, apakah saya masih berguna atau tidak. Mereka mengizinkan. Saya mengajar dalam keadaan kepala gundul. Saya percaya diri saja. Saya tidak mungkin pakai wig, kan? Kadang pakai topi olahraga, kadang saya buka. Tentu mereka bertanya-tanya, mengapa begini, lalu saya kasih tahu bahwa ini hasil pekerjaan KP. Tetapi di sana, mereka pun memberikan semangat. Sejam, saya tahan. Setelah itu, keluar keringat dingin, basah kuyup. Tetapi teman-teman memberi semangat.
Setelah kemoterapi ke-6, semua berjalan lebih lancar. Dalam perjalanan pulang usai kemoterapi ke-6, saat saya sedang duduk-duduk di bandara, saya didekati seseorang. Dia bertanya, "Kamu sakit ya?" Saya jawab, "Ya, saya terkena KP, saya habis radiasi, dan saya dalam perjalanan kembali ke Jakarta." Ternyata dia adalah seorang dokter gizi. Dia bilang, "Saya tidak bisa temani kamu, tetapi saya melihat kamu seperti sedang sakit. Tolong, ya, begitu kamu sampai ke Jakarta, kamu makan suplemen. Kamu terlihat kekurangan asupan. Kamu perlu makan suplemen. Kulit kamu terlihat abu-abu dan kuku hitam. Kamu coba, ya." Sesampai di Jakarta, saya coba cari suplemen yang ia sarankan.
Tiga minggu kemudian, saya menjalani proses radioterapi setiap hari, proses ini berjalan sebanyak 25 kali, sehari sekali. Tak lama, sih, hanya 10 menit. Tetapi prosesnya itu sangat tidak nyaman. Banyak sekali aturannya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Benar-benar tidak boleh ngapa-ngapain saat radioterapi. Mungkin, karena kekuatan saya pribadi, suplemen, dan nasihat untuk terus minum air kelapa, akhirnya saya kuat untuk radioterapi. Padahal, teman-teman lain yang juga diradioterapi merasa mual-mual dan muntah.
Baru Perjalanan Pertama
Kemudian, dokter bertemu saya lagi, lalu dia bilang, "Itu baru perjalanan pertama. Perjalanannya, lima tahun ke depan, kamu harus lihat lagi. Ingat, obat ini ada dampak ke tulang, ia bisa mengeroposkan tulang. Kamu harus hati-hati. Minum susu, makan keju, apa saja untuk memperkuat tulang kamu. Makanlah apa saja, asal jangan terlalu banyak satu sisi, yang penting seimbang. Karena kalau kamu bingung dengan makanan dan banyak pantangan, maka kamu akan stres. Stres pun akan bikin kankernya kembali lagi." Lalu saya tanya, "Jadi, ini kankernya enggak akan hilang, Dok?" Dia jawab, "Kanker tidak akan pernah hilang. Dia akan selalu ada di tubuhmu. Kalau tidak hati-hati, dia akan tumbuh lagi. Jadi, jaga terus."
Mulai dari situ, saya lalu berusaha untuk tetap seimbang. Makanan, asupan buah-buahan dan sayur-sayuran saya usahakan untuk mencukupi. Tetapi saya juga suka steak. Kan, kata dokter saya tidak boleh stres. Ya, saya coba imbangi. Alhamdulilah, sekarang sudah 4 tahun, dan saya masih bisa berbagi cerita saya. Saat ini saya bergabung dengan Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta. Kami punya misi, tahun 2020 nanti, di Jakarta tidak ada lagi penderita kanker payudara stadium lanjut. Lebih baik mengetahui sejak dini untuk diatasi secara medis agar tuntas dan tidak menunda-nunda atau coba alternatif ke sana-ke mari. Pengobatan Alternatif Tasik.
Editor: Nadia Felicia, Sumber : Kompas.com
Pengobatan Alternatif Tasik. Kanker payudara (KP) merupakan salah satu pembunuh perempuan terkejam. Ia datang diam-diam, menggerogoti tubuh, menyakiti, kemudian membunuh. Bukan hal yang mudah untuk menghadapi kanker. Inilah cerita Enny Hardjanto, seorang pengusaha, dosen, dan survivor KP yang sempat divonis berada di stadium 4.
Saya terdeteksi KP sekitar tahun 2005, begitu tahu kabar ini, saya tidak mau ke dokter. Itu kesalahan saya. Saya merasa takut. Benar-benar takut. Saya sudah banyak mendengar cerita mengenai proses penyembuhan kanker yang menimbulkan banyak masalah, mulai dari kemoterapi atau biopsi, mereka bilang, nanti kankernya akan makin menyebar. Semua mitos itu memengaruhi saya. Sehingga pada tahun 2005 itu, saya ndak berani ke dokter. Padahal, dari dokter yang memberitahu (dokter umum), semua gejala sudah mengindikasikan apa yang saya idap itu adalah KP.
Masih diselimuti rasa takut untuk menempuh jalur medis, saya pun pergi ke pengobatan-pengobatan alternatif. Semua saya datangi. Mulai dari ujung Sumatera Utara sampai ke Irian, semua saya coba. Di Jakarta lebih banyak lagi saya datangi. Ada yang lewat kambing, dibuanglah, inilah, itulah. Uang yang keluar pun jutaan, bukan satu-dua juta, tetapi puluhan juta, hanya untuk alternatif. Bayangkan saja, biaya untuk tiket penerbangan, penginapan, dan ini-itunya, kan tidak sedikit. Setelah 6-7 bulan berusaha pengobatan alternatif, bukannya berkurang, malah makin menyebar. Kanker payudaranya sudah mulai terasa sakit, karena kankernya ternyata sudah merasuk ke dalam. Bentuk payudara saya pun sudah mulai tak keruan.
Tak lama, teman saya mengajak terapi China. Saya ikutin selama 2 bulan. Dokternya bilang, saya harus pergi ke China. Saya tidak berani, karena saya tidak bisa bahasa China, kalau ada apa-apa saya tidak mengerti, lalu saya berhenti. Teman saya sudah dikemoterapi oleh dokter itu, sudah kelar. Lalu teman saya itu bilang, "Udah, kita ke medis saja, ya." Saya pun menyerah, saya pergi ke ahli medis di Jakarta. Dokter itu bilang, "Waduh, kamu ini sudah stadium lanjut. Enggak ada yang berani operasi. Harus dikemoterapi dulu." Saya pun hitung-hitung. Ternyata biayanya mahal luar biasa. Karena kemoterapi yang harus saya jalani tipe yang sangat kuat.
Saya menyerah, saya saat itu sudah pensiun, tetapi kadang masih mengajar. Lalu, teman-teman saya yang juga terjerat KP pun berkumpul. Kita pun sharing banyak sekali.
Tiba-tiba ada yang mengajak pengobatan ke Malaka. Menurutnya, lebih murah dibanding biaya perawatan di Jakarta. Saya pikir, kan keluar negeri, pastilah lebih mahal karena penerbangan, penginapan, dan lainnya. Eh, ternyata enggak, karena ada penerbangan promo ke Malaysia yang murah. Saya bersama suami, pergi ke sana bersama dua teman.
Di sana, kami ketemu dengan salah seorang dokter yang sama. Dokter di sana bilang kepada salah satu teman saya yang sudah dikemoterapi di Indonesia, "Mengapa kamu dikemoterapi? Kamu tidak menderita kanker. Kamu cuma punya tumor." Padahal bentuknya besar sekali, sebesar bola voli. Menurut dokternya, kalau dioperasi saja, sudah bisa kelar. Teman saya yang satu lagi, diperiksa, ternyata baru stadium 2, tinggal dioperasi dan kemoterapi, selesai. Lalu, begitu sampai di saya, dokternya hanya bisa diam.
Pasti Ada Jalan
Tiba-tiba, si dokter bilang, "Ini yang membuat saya semangat. Kita satu tim. Kamu, saya, dan Tuhan. Saya tidak bisa menyembuhkan kamu. Saya bisa berusaha, tetapi kamu pun harus berusaha untuk mau sembuh. Kalau enggak, tak bisa. Kamu bisa?" Yang menjawab malah suami saya, "Ya, kita harus bisa! Harus, harus, harus." Lalu saya tanya berapa biayanya, suami saya bilang lagi, "Nanti kita cari. Pasti ada jalan."
Soalnya ini satu-satunya dokter yang bisa bilang, bahwa kita ini satu tim dan dia mau berusaha. Teman-teman saya pun dioperasi dan kemoterapi. Begitu giliran saya, dokter bilang, "Kamu nanti jangan kaget, ya. Kamu akan dikemoterapi besok sekitar jam 9 pagi. Kemoterapinya enggak sakit, masuk dari sini, nanti keluar di sini. Tidur saja, tenang-tenang. Tetapi, nanti akibat kemoterapinya akan terasa tidak nyaman.
Sore, sekitar jam 4, setelah dikemoterapi, saat akan buang air kecil, akan ada warna kemerahan. Itu artinya kemoterapi sedang bekerja. Di situ, kamu tidak bisa kontrol badan kamu. Kadang terasa panas, kadang menggigil. Kamu tidak bisa menguasai diri. Sudah, kamu terima saja, biarkan saja. Semangati terus karena ini proses. Ini proses yang cukup lama. Ini hari pertama. Hari kedua akan terasa badan tidak enak. Lalu di hari ketiga, kamu akan merasa mual dan muntah. Mungkin juga buang air besar. Ini adalah gejala-gejalanya. Nanti, setelah 2-3 minggu, kuku kamu akan menghitam. Kamu bisa, kan?" Suami saya yang jawab, "Bisa, Dok!"
Saya minta sama dokternya supaya saya menjalani ini semua di rumah saja. Dokter bilang, setelah kemoterapi, saya harus langsung pulang. Sekitar jam 9 pagi saya dikemoterapi, lalu jam 11 saya sudah dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Sekitar jam 4 sore, badan saya mulai tidak enak. Saat buang air kecil, benar saja, airnya merah sekali. Lalu tak lama kemudian, temperatur tubuh saya berubah tidak keruan. Di malam hari, saya tidak bisa tidur. Itu hal yang saya paling tidak tahan dari seluruh proses ini. Saya sebenarnya orang yang mudah sekali tidur. Kadang, saya bisa tidur sambil berdiri, kok. Ini, saya tidak bisa tidur sama sekali. Ini bikin saya frustasi. Saya gelisah terus-terusan karena badan tidak enak. Saya sampai minta tolong sama Tuhan untuk membiarkan saya tidur barang 5 menit saja. Akhirnya bisa, tapi cuma sebentar, bangun lagi.
Dua hari kemudian, ibu saya datang. Ia datang dan memeluk saya, tapi saya tidak kuat terima pelukannya. Badan saya sakit bukan main. Ibu saya menangis melihat saya. Karena melihat begitu, saya marah kepada adik saya, "Sudah, kamu bawa ibu pulang, saya tidak bisa melihat ibu sedih. Kalau saya lihat orang lain sedih, saya lebih sedih." Akhirnya ibu dan teman-teman saya cuma lewat telepon dan sms.
Saya Berubah
Aslinya, saya orang yang penggembira. Melihat saya sedih, jadi terasa bukan saya. Hari ke-17, saya merasa aneh. Begitu saya bangun, saya melihat ke bantal saya. Lalu saya melihat sebagian dari rambut yang tadinya ada di kepala saya sudah tergeletak di bantal. Saya berkaca, saya ingin menangis. Botak sana, botak sini. Lalu saya telepon dokter yang di Malaka. Saya tanya, "Dok, mengapa begini cepat?" Lalu ia cuma menjawab, "Aduh, saya lupa bilang sama kamu, dampak pada orang-orang itu berbeda. Saya kira tidak akan terjadi di bulan pertama. Ternyata di kamu lebih cepat." Saya tanya lagi, "Ini akan tumbuh lagi, enggak?" Ia menjawab, "Saya enggak bisa jawab. Mintalah kepada Tuhan." Langsung saya telepon penata rambut saya untuk ke rumah.
Begitu dia lihat saya, dia menangis, "Haduh, ini kenapa begini?" Saya minta cukur sampai habis, dan ia mencukur sambil menangis. Saya cuma bilang, "Nanti, kalau tumbuh lagi, saya minta datang ke rumah, ya." Tetapi saya enggak minta ia datang lagi berbulan-bulan.
Yang lebih menyedihkan lagi, biasanya saya kuat pergi sendiri ke kamar mandi. Padahal kamar mandi saya dekat, jadi kalau saya mau muntah, gampang, tinggal jalan. Minggu kedua kemoterapi, saya sudah tidak kuat jalan ke kamar mandi. Akhirnya saya tinggal di kamar mandi. Di sana, aktivitas saya antara buang air besar atau muntah. Padahal sudah dikasih obat anti muntah, tak ada pengaruhnya. Kembali lagi dokternya bilang, efek pengobatan berbeda tiap orang.
Akhirnya saya cuma bisa berdzikir, berdzikir, dan pasrah. Untungnya, pembantu saya baik dan pengertian. Setiap kali saya muntah, ia bikinkan jus. Jusnya bermacam-macam. Ada apel, pir, anggur, dan dicampur Pocari Sweat. Apa saja masuk, asal saya mau. Karena saya tidak bisa makan. Mencium bau makanan saja saya sudah tidak kuat. Hanya mencium makanan saja saya sudah muntah, padahal belum melihat makanannya. Terus-terusan saya diberi jus begitu kelar muntah oleh pembantu saya. Saya sangat berterima kasih sekali sama dia.
Kemoterapi pertama lewat, saya harus kembali lagi. Setelah dicek lagi, ternyata metastase di paru-paru saya sudah berhenti. Dokter saya berusaha mempertahankan dan dia berpendapat harus dikemoterapi lagi. Saya tanya, "Dok, semua sama lagi? Berulang lagi?" Dengan semangat, ia menjawab, "Ya, sama. Semuanya kembali seperti yang pertama." Kemoterapi saya yang kedua pun terjadi, semua sakit tadi berulang lagi. Kulit saya sudah berkeriput semua, jadi berwarna abu-abu. Tangan saya menghitam. Ya, saya nikmati. Periksa lagi, mengecil lagi kankernya. Lalu kemoterapi ketiga, masih saya coba nikmati.
Dokter Berani Operasi
Begitu menjelang kemoterapi keempat, dokternya baru mau mulai berani beroperasi. Biasanya, kalau operasi seperti ini cuma berlangsung 1,5 jam. Tetapi operasi saya ini berjalan sampai 4,5 jam. Ternyata menurut dokternya, kanker itu sudah ada yang mulai menggerogoti tulang, jadi harus dikerik. Karena itu pun, sakitnya luar biasa, jangan ditanya, bahkan akhirnya saya diberi morfin selama seminggu. Tetapi dokter di sana itu, empati sama orang, tetapi tidak boleh manja. Jadi, besoknya setelah operasi, saya harus memaksa diri untuk mengangkat tangan saya. Padahal, kelenjar getah bening di bagian atas lengan kiri saya baru saja diangkat. Itu semua diambil, dan saya dipaksa mengangkat tangan saya, paksa terus, paksa lagi. Tetap dengan suntikan morfin selama seminggu, lalu seminggu kemudian saya tetap disuntik morfin untuk mengurangi morfin yang pertama. Dua minggu saya di sana, saya mulai tidak betah di rumah sakit, saya minta pulang. Dokter pun mengizinkan saya pulang.
Hampir Menyerah
Baru seminggu saya di rumah, dia telepon lagi, dia minta saya kembali. Saya diminta untuk kemoterapi lagi. Padahal saya masih lemas, saya belum pulih. Dia paksa saya untuk kembali kemoterapi, karena kalau berhenti sebentar, akan tumbuh lagi. Ya, sudah, saya kembali. Kondisi saya sangat parah. Saya sudah tidak bisa bangun, kan baru operasi, lalu kemoterapi lagi. Saya sempat bilang sama Tuhan untuk mengambil saja nyawa saya. Saya merasa tidak berguna. Tetapi hal itu tidak lama. Saya tersadar, saya minta maaf, karena saya ingat, saya sudah dipandu, sudah dibantu, dioperasi berhasil, dikemoterapi berhasil. Lalu apa hak saya meminta ia mengambil nyawa saya? Di sana saya merasa ditemani, merasa dipeluk, lalu saya kembali semangat. Saya jalani saja lagi, meski berat.
Kemoterapi kelima, pun lewat. Saya pun merasa lebih bersemangat. Saya tanya sama teman-teman saya, apa masih mungkin saya mengajar lagi, sejam saja. Saya ingin tahu, apakah saya masih berguna atau tidak. Mereka mengizinkan. Saya mengajar dalam keadaan kepala gundul. Saya percaya diri saja. Saya tidak mungkin pakai wig, kan? Kadang pakai topi olahraga, kadang saya buka. Tentu mereka bertanya-tanya, mengapa begini, lalu saya kasih tahu bahwa ini hasil pekerjaan KP. Tetapi di sana, mereka pun memberikan semangat. Sejam, saya tahan. Setelah itu, keluar keringat dingin, basah kuyup. Tetapi teman-teman memberi semangat.
Setelah kemoterapi ke-6, semua berjalan lebih lancar. Dalam perjalanan pulang usai kemoterapi ke-6, saat saya sedang duduk-duduk di bandara, saya didekati seseorang. Dia bertanya, "Kamu sakit ya?" Saya jawab, "Ya, saya terkena KP, saya habis radiasi, dan saya dalam perjalanan kembali ke Jakarta." Ternyata dia adalah seorang dokter gizi. Dia bilang, "Saya tidak bisa temani kamu, tetapi saya melihat kamu seperti sedang sakit. Tolong, ya, begitu kamu sampai ke Jakarta, kamu makan suplemen. Kamu terlihat kekurangan asupan. Kamu perlu makan suplemen. Kulit kamu terlihat abu-abu dan kuku hitam. Kamu coba, ya." Sesampai di Jakarta, saya coba cari suplemen yang ia sarankan.
Tiga minggu kemudian, saya menjalani proses radioterapi setiap hari, proses ini berjalan sebanyak 25 kali, sehari sekali. Tak lama, sih, hanya 10 menit. Tetapi prosesnya itu sangat tidak nyaman. Banyak sekali aturannya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Benar-benar tidak boleh ngapa-ngapain saat radioterapi. Mungkin, karena kekuatan saya pribadi, suplemen, dan nasihat untuk terus minum air kelapa, akhirnya saya kuat untuk radioterapi. Padahal, teman-teman lain yang juga diradioterapi merasa mual-mual dan muntah.
Baru Perjalanan Pertama
Kemudian, dokter bertemu saya lagi, lalu dia bilang, "Itu baru perjalanan pertama. Perjalanannya, lima tahun ke depan, kamu harus lihat lagi. Ingat, obat ini ada dampak ke tulang, ia bisa mengeroposkan tulang. Kamu harus hati-hati. Minum susu, makan keju, apa saja untuk memperkuat tulang kamu. Makanlah apa saja, asal jangan terlalu banyak satu sisi, yang penting seimbang. Karena kalau kamu bingung dengan makanan dan banyak pantangan, maka kamu akan stres. Stres pun akan bikin kankernya kembali lagi." Lalu saya tanya, "Jadi, ini kankernya enggak akan hilang, Dok?" Dia jawab, "Kanker tidak akan pernah hilang. Dia akan selalu ada di tubuhmu. Kalau tidak hati-hati, dia akan tumbuh lagi. Jadi, jaga terus."
Mulai dari situ, saya lalu berusaha untuk tetap seimbang. Makanan, asupan buah-buahan dan sayur-sayuran saya usahakan untuk mencukupi. Tetapi saya juga suka steak. Kan, kata dokter saya tidak boleh stres. Ya, saya coba imbangi. Alhamdulilah, sekarang sudah 4 tahun, dan saya masih bisa berbagi cerita saya. Saat ini saya bergabung dengan Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta. Kami punya misi, tahun 2020 nanti, di Jakarta tidak ada lagi penderita kanker payudara stadium lanjut. Lebih baik mengetahui sejak dini untuk diatasi secara medis agar tuntas dan tidak menunda-nunda atau coba alternatif ke sana-ke mari. Pengobatan Alternatif Tasik.
Editor: Nadia Felicia, Sumber : Kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)